Selasa, 19 November 2013

Citra & Riri - Don't know why


This is one of my favorite song. Norah Jones is awesome. So does my friend. :)

Citra & Riri - Grenade Cover


It's been a long time since we have a duet. this is our second song we start to play again together. Enjoy it. :)

Kamis, 07 November 2013



"Maybe it's good if he goes. Sometimes you can spend too long on one-sided love."


Minggu, 03 November 2013

Stuff being grown up



"Kalau perasaan didebat logika ya ga bakal beres-beres. kalau ga saling ngertiin ya harus ada yang ngalah. that's the sign you wanna to survive, till you can't do anything anymore.

well, stuff being grown up, maybe.

now and then. let anything be."


Jumat, 01 November 2013

PMS selalu bisa menjelaskan semuanya...


Kalau cewe tiba-tiba marah-marah ga karuan, alesan ga jelas, ngomong ngawur, jawabannya cuma satu, PMS. Gue juga ga tau jelas penjelasan ilmiahnya. Kalau ga salah sesuatu yang berhubungan estrogen progesterone yang entah digiminain jadi nebuat cewek emotionally and physically, crazy.

Oke, gue bukan mau presentasi soal PMS. Pasalnya, temen-temen gue suka ngerasa kalau cewe-cewe ngejadiin PMS ini tameng buat marah-marah ga jelas, supaya dia akhir ketika menyesal bisa dimaafkan, because they know it subconsciously happens. Itu cuma alesan, katanya. Gue rada ga terima dengan statemen itu.


Boys don’t have any idea. Gue sadarain ga fair kalau kita marah-marah dan ketika ditanya kenapa kita jawabnya, ‘lagi PMS’. Jawaban yang tidak bertanggung jawab. But hey, try it out and you’ll know it. Ketika puncak emosi ada di ubun-ubun, dan secara fisik lo nyeri ga ketulungan, dan lo ngucapin satu kata yang nyentil rasa kekecewaan lo in any topic exists in the world, there you are. 

Selasa, 22 Oktober 2013

Picisan...

Belakangan, gue ngerasa idup gue dipenuhi dengan ke-melankolis-an. Gue selalu ngerasa kalau hal apapun yang bikin gue sedih atau gelisah, I can trough that no matter what. Gue ngerasa udah kebal dan ngerasain yang namanya sakit tingkat dewa, jadi gue pede aja bisa ngejalanin hal-hal picisan kaya gini.

I was wrong, you know that. Hal-hal sepele yang nyentil dikit perasaan lo tetep bisa jadi bikin lo gelisah ga karuan, walopun lo udah pernah jatoh berkali-kali. And honestly, this is the part I hate the most.

Ketika lo ada dalam puncak kekalutan, jalan lo cuma dua. Lo maju terus ke dalam kekalutan lo dan jadi pecundang, atau lo muter balik. Lo tutup rapat-rapat dan cari jalan lain.

Jadi, gue mulai berikrar buat ga wasting my precious times, ever again. Ga tau sih gue beneran bisa apa engga. Kalau ga dicoba ya ga bakal tau. Gue mulai lagi ngebenahin mimpi-mimpi gue dulu. Gue mulai tempel lagi gambar-gambarnya, gue mulai banyak berdoa, dan gue mulai nyari jalan lagi.


Gue mendingan ngeluh terus karena cape kerja daripada ngeluh karena hal-hal klise, atau hal-hal picisan. Maybe we need it sometimes, but people have their limit. So this is my limit. I can’t take further than this.

Jumat, 11 Oktober 2013

Hey, Freedom! (2)


\Gue sedikit tergugah dengan tweets @benhan mengenai UU ITE tentang pencemaran nama baik. Walapupun gue dulu pernah ngepost soal sampai mana kebebasan kita berpendapat, bertindak sebagai masyarakat Negara demokrasi, gue ngerasa untuk yang satu ini kita perlu benar-benar bebas, karena tujuannya baik.

Katanya, di Amerika, freedom of speech dilindungi konstitusi. Orang-orang ga bisa dituntut apalagi dipenjaran hanya karena pendapatnya. “Menurut Supreme Court US, freedom of speech akan membuat sebuah bangsa menjadi lebih besar. Karena kritik akan mengarah pada perbaikan diri. Kritik, walaupun memuat penghinaan, bagi mereka akan memperbaiki bangsa secara keseluruhan, dijadikan cambuk untuk terus memperbaiki diri.” (@benhan)

Make sense. Gue setuju-setuju aja kalau mengarah pada perbaikan diri, mengarah pada tujuan yang baik. Masalah kesinggung dengan hinaan atau kritikan itu masalah personal. Masalahnya, mungkin, para pejabat di Negara kita adalah mungkin orang-orang yang sensitif. Udah tau gitu mereka main internetan, dimana yah, seperti dunia tanpa batas. Gue dulu pernah denger “kalau ga mau sakit hati, jangan berurusan dengan percintaan” because nothing last forever, because it wouldn’t last and so on and so on. Mungkin sama halnya dnegan ini. Kalau ga siap dengan kritikan pedas, hinaan, atau apapun itu mereka sebut, yang jangan mainan yang beginian. Atau mungkin tepatnya, kalau ga siap dikritik ya jangan jadi pejabat atau menteri atau perwakilan rakyat apapun, yang notabene pasti bakal di judge no matter right or wrong they behave.
Atau, mungkin masalahnya adalah mungkin bangsa kita ga mau memperbaiki diri. Bangsa yang berteriak-teriak mengenai Hak asasi, moralitas dan religiusitas, but act nothing.

Well, memang demokrasi di Negara kita dan di Amerika berbeda. Tapi untuk tujuan yang baik kenapa engga? Jangan sampai UU ITE ini menjadi bentuk lain dari pembukaman jaman orde baru. They, the placemen, have more important issues to be solved than wasting time in court shouting about how broken heart they could be because of criticism. Sounds like a looser, I think. No, sounds like a sensitive man. Ah ya, this is Indonesia, the place where people are sensitive.  

By the way, gue jadi ngeri-ngeri gimana juga sik ngomongin beginian. Takut-takutnya ada yang ga enak terus gue dijeblosin ke penjara. Tapi ga apa-apa juga sik. Selagi Harvey Specter sama Mike Ross masih jadi lawyer. Gue dengan senang hati maju ke Meja hijau.

Well, gue bukannya mau mengesampingkan perasaan orang yang di kritik. Mau bagaimanapun, kita, mereka, semua manusia yang punya perasaan. But. Let’s be a better man. Maksud gue, kalau korban perasaan bisa bikin perubahan untuk orang banyak, which is a good thing to do, a good deed God will count, kenapa kita harus egois untuk kebahagiaan individu? Yang kita tau ga ada yang namanya kebahagiaan Individu. Kebahagiaan 100% bersifat relasional, Ura Karma said.