Minggu, 19 Mei 2013

Maybe God doesn’t give me driving skill so I couldn’t be blamed for this matter




Well it’s been a long time since I wrote in this blog. Banyak banget hal yang terjadi kemaren sampe-sampe tiap mau nulis pikiran gue terlalu numpuk and I’m so speechless.

Tapi kejadian kemaren banget bikin gue ga bisa kalau ga nulis. That would be my unhappiest moment in my life. Dan semua itu kejadian karena kebodohan gue juga, tapi karna gue ga mau disalahin, gue jadi nyalahin entah pemerintah bagian mana yang ga bisa nyetop jumlah mobil dan motor di tempat gue.

Menurut gue, penggunaan atau kepemilikan mobil bukan harus dikurangi, tapi harus di stop, maybe for a while, di Indonesia. Gue ngomong ngaco sik, tanpa data. Tapi ini yang ada dipikiran gue. Because, seriously, I really saw so many cars and motorbikes everywhere. Kejadian kemarin bikin gue trauma buat naek angkot kemana-mana. Please imagine, gue naek angkot dari jam 5 sore dan baru nyampe jam 2 pagi, itupun setelah gue jalan jauh sekian kilometer dan di jemput pake motor di tempat yang masih padet. Gue bener-bener ga bisa abis pikir. Yang gue liat saat itu beneran lautan motor dan mobil ampe ke trotoar dang a ada jalan sedikitpun buat jalan kaki dan macet dan amarah dan kelaparan. Kenapa kelaparan? Karena lo ampir 9 jam dijalan tanpa makan dan minum apapun, guys?! Then people did have their anger. And for the records, this is the first time in my life seeing so many wheels. Kalau gue ga turun dan jalan kaki, gue ga tau nyampe jam berapa ke rumah. Dan gue ga bisa ngebayangin jam berapa orang-orang yang seangkot sama gue yang ga dijemput nyampe ke rumahnya.


Well, gue ga bakal cerita banyak penderitaan gue saat itu. The point is, terlalu banyak kendaraan di jalan kita ini di Indonesia. Ga sepadan dengan jalan yang kita punya, ga sepadan dengan mekanisme pengaturan jalan, or let’s say, polices capacity to manage traffic. And, ga sepadan juga dengan etika kita berkendaraan. Gue ngebayangin kalo kita ga emosian (this is I believe will never happen) dan saling sikut di jalan kita yang kecil dan padet ini, mungkin berkendaraan ga bakal begitu stress, jalanan ga bakal sebegitu hectic-nya. Kalau kita bisa saling excuse dan saling ngasih jalan mungkin perempatan jalan ga bakal sesemerawut saat itu. Gue ngeliatin orang pada teriak sikut sana sini, ditambah polisi marah-marah, anak-anak pada nangis, berisiknya terompet kemenangan persib, dan… what the hell was this? War? Dada Rosada ngapain aja sik kemarin?

This is not his fault, however. He confessed that transportation is one of problems that he can’t solve. Hal begini bukan buat ditimpahkan ke satu orang, walaupun sebenernya beliau bertanggung jawab, dan sebenernya bisa dikordinasikan. But I believe it’s our duty too as one society to “behave” and to take responsibility of this mess. Kalau laju kendaraan bisa dibatasi like, maybe one family one car, atau mungkin di stop in certain time pemasukan dan pembelian mobil, maybe we can breathe clean air for a while, smile for a while, and decrease our stress for a while. Sekarang satu keluarga berlima dan mereka punya dua mobil masing-masing di kali kan 20 persen kelas menengah keatas rakyat Indonesia, yang mungkin punya mobil,   udah berapa ribu mobil? Di tambah fenomena motor di Indonesia yang katanya efektif dan efisien for middle to low class society, but when it comes to a big number, it’s not effective and efficient at all. Dude, gimana lo bisa tepat waktu ke kantor naek motor kalo jalanan macet sama kalian-kalian juga yang saling serobot?

Mobil tambah banyak, motor segudang, jalanan tetep dan malah makin rusak. Gue ga terlalu ngerti apa yang bikin pemerintah, at least pemerintah setempat, lambat buat take action buat urusan transportasi ini, yang sebenernya udah dari dulu banget ada, disaat banyak solusi ditawarkan dan bisa diambil dari pengkritik-krtitik masalah social kita (kalau ga pengamat ya mahasiswa biasanya ini).

Gue ga bisa nyetir mobil atau pun motor sik (baca: penumpang sejati). Jadi apa yang gue tulis disini murni dari mata penumpang dengan pemikiran seadanya. Well, maybe God doesn’t give me a driving skill so I couldn’t be blame for this matter. 

No, I’m kidding. But seriously. :D



Rabu, 23 Januari 2013

Apa yang ada dalam pikiran mereka ketika orang bilang “kalian tidak bisa mendengar”?

 Belakangan, setelah lulus kuliah, gue banyak banget mikir. Mungkin karena kesibukan gue (yang dimana sebenernya ga ada) yang mengurang, gue jadi punya banyak waktu buat ngelakuin banyak hal, terutama mikir, which is the bad side of me. Masalahnya, kebanyakan mikir bikini idup lo lamban, plin-plan, curigaan,  dan mandeg. Karena kebanyakan mikir gue jadi banyak diem karena pikiran gue penuh dengan apa yang harus gue lakuin duluan, film mana yang harus gue tonton atau buku mana yang harus gue baca duluan, kenapa harus yang ini, kalau begini gimana, kalau begitu gimana, kok kamu kayak gitu?. Alhasil, nothing comes good.

Inilah rentang hidup yang tidak mengenakan. Lulus, belum punya kerjaan tetap, uang masih minta orang tua, temen-temen ngilang, dan sendirian. Gue bolak balik mikir apa gue harus minta kuliah lagi sama ortu biar gue lepas dari tanggung jawab diri gue sendri, biar gue bisa masih ditimang-timang nyokap, biar kerjaan dan tujuan gue jelas, belajar. “Lo gak mau nyenengin ortu dulu, ri?” “Iya gue juga pengen.Tapi gue stuck nih mau ngapain”. Ketika dimana lo ngalamin satu titik jengah dalam hidup lo, dan segala sesuatu yang datang jadi serasa menjengahkan, apapun itu. Bahkan ketika Tuhan sedang ngasih jalan buat lo, dengan seenak udel tutup tu jalan page pager. Life sucks, they said.

This is what I feel over this month. Dan sampai sepuluh detik yang lalu, gue masih ngerasa kalau gue lagi ada di jalan yang salah. “Galau” orang bilang. Tapi gue lebih seneng pake istilah pencarian jati diri. Walaupun istilah ini lebih tepat dipake buat anak SMA yang lagi ababil-ababil nya dan bingung milih antara jadi pelacur atau jadi istri ke-4-nya bapak menteri (this is happening, apparently) . But here I am with my stupidity.

But here’s my point. Kemarin gue dapet kerjaan transkrip video. Dan ternyata video anak tuna rungu kelas 8 yang lagi belajar bahasa inggris. Gue ga bisa berenti mikir. They are so young, beautiful and handsome, and smart. Tapi ketika mereka ngomong dengan terbata-bata, dan ketika mereka merasa bodoh dan tersiksa karna gak tau cara nulis “keranjang” dan dengan susah payah bilang “bear” dan “rabbit”, gue ga bisa lagi caci maki hidup gue.

Life is not perfect. That’s a cliché stuff, I know. But if there are people outside feel that their life is perfect, then they are blind. They don’t see around.

Ketika lo ngerasa hidup lo sempurna dengan semua apa yang lo punya, dengan semua yang lo raih, dan ketika lo nengok kanan atau kiri, there they are. Ketidaksmepurnaan yang membuat kesempurnaan kita tidak ada artinya. Then it’s not perfect at al.  There’s no such thing.

I wonder, Apa yang ada dalam pikiran mereka ketika orang bilang “kalian tidak bisa mendengar”? Hard to say. mikirinya aja bikin gue pengen nangis. gimana kalau gue diposisi mereka? see? the power of kebanyakan mikir. 

They can think and feel everything but they can’t even say it softly. Mereka harus hidup ditengah-tengah orang yang nganggap mereka idiot. Sedangkan gue, gak peduli. Ga ngeliat. Sibuk galau-ing diri sendiri dan caci maki Indonesia, ngebayangin di presidenin Rhoma Irama. Ditengah kerasnya usaha mereka to get a life, I try to throw my life to nothing? Thinking for nothing? Is that how this life works?

Minggu, 18 November 2012

I wonder why there are so many Chinese everywhere...


Oke. Gw ga sabar sebenernya pengen posting tulisan ini malam kemarin sehabis gw balik dariexclusive concert-nya Sungha Jung. Namun apa daya raga ini tak mampu. Walaupun minum kopi biar melek, badan ga mau kompromi. So here it is.

Buat kalian yang ga tau Sungha Jung, dia adalah seorang Solo guitarist fingerstyle 16 tahun dari Korea. Maen gitarnya udah keren banget dari dia umur 7 tahun. Dia itu sejenis anak Prodigy, Gifted. Ada yang pernah nonton August Rush? Nah, dia sering disebut Korean August Rush. Entah bakat dari mana pokonya maen gitarnya ajib banget. Coba cek deh videonya di youtube. You’ll feel the same thing as I do.

Well, yang jadi pikiran gw kemarin malam bukanlah Sungha Jung nya.  He was perfect with all his talent and handsomeness that made all the girls screaming loudly. Tapi, gw lebih concerned ke penonton. Kalau gw persentasikan, sekitar 80% penonton Sungha Jung kemarin malam itu Chinese.

Gw ga bermaksud rasis. Banyaknya chinese yang datang kemarin malam bisa aja karena artisnya datang dari etnis serupa, Korea, you know what I mean, slanting eyes. Atau memang karna sebagian besar Chinese-chinese itu yang cukup gaul buat tau Sungha Jung. Atau mungkin sebagian besar Chinese yang notabene kaya itu yang mampu beli tiket yang lumayan mahal itu. Bisa apa aja. Bisa aja ga ada alasan sama sekali, which means gw-nya aja terlalu overthinking.

But, seriously! Yang gw rasain semalem itu aneh.  Gw ngerasa asing di kota sendiri. Gw ngerasa gw lagi ada di hongkong atau CIna, korea, ato Jepang. Di kelilingi people with slanting eyesNo offenseya. Sama sekali tidak berniat menyinggung. Gw Cuma heran di kota sunda ini, hanya sedikit gw bisa melihat muka-muka ayu asli Indonesia, terutama di kota besar Bandung ini.

Penduduk Cina itu ada dimana-mana di dunia. Bahasanya bahasa kedua di dunia. Salah satu Negara berpengaruh di dunia. Orang-orangnya pekerja keras yang ngejadiin kehidupan mereka lebih layak dan mapan dimanapun mereka tinggal. Itulah yang biking gw ngerasa beda sama mereka. Dan gw rasa mereka pun ngerasa  beda sama penduduk lokal kita. Jarang gw liat chinese jalan sama orang-orang lokal. Mereka selalu nge gang dengan etnik mereka.  Pacaran sama etnik mereka. Bergaul dengan sesama mereka.

Setelah gw baca, sebenernya penduduk cina di Indonesia itu cuma sekitar 4-5% dari jumlah seluruh penduduk Indonesia. Tapi, salah satu daerah yang memiliki etnis China terbanyak ini memang ternya ta di Bandung, di samping Cirebon, Banjarmasin, dan Surabaya. Makes sense.  Gw pikir Jakarta paling banyak. Entah karena kepadatannya dan peluang bisnis yang tinggi di sana. Tapi mungkin, malah mungkin orang Indonesia lokal yang banyak bermukin di Jakarta, mengadu nasib buat sesuap nasi. Nah, orang China yang kaya ini mungkin tinggal nikmati aja Surganya Bandung. tapi tetep aja sih, gw ngerasa merka tuh ada dimana-mana...

Well, entah karena perbedaan budaya atau memang karena kurang memiliki rasa kebersatuan walaupun beda ini, gw masih ngerasa ada jarak dengan mereka. I try to be nice. But I just can’t make it normal somehow

Mungkin gw ga harus overthinking kali ya… people have a right to live anywhere, to make friends with anyone, by their own

Minggu, 16 September 2012

Cuman ada di Indonesia



Banyak hal yang bikin gw bangga sama Indonesia. Menurut rumor yang beredar, Indonesia hebat dengan keindahan alam dan kekayaan yang dimilikinya, walopun gw ga tau sebanyak dan seindah apa. However, gw pernah kok menikmati beberapa keindahan alam Indonesia yang bikin gw bangga banget tinggal di Indonesia.


Ironisnya, banyak hal juga yang bikin gw malu jadi warga bangsa Indonesia. Bukan malu sih. Mungkin tepatnya kesel karena ga bisa ngerubah keadaan, kesel kenapa sebagian banyak orang-orang di Indonesia ini berhati busuk, kesel kenapa kita semua ga satu hati buat bikin Indonesia negara yang 'benar'. Dan kekeselan gw ini gw timpukin ke Tukang Angkot.


Kalau gw jadi Presiden, ato at least jadi istrinya presiden lah, hal yang pertama yang mau gw musnahin adalah Angkot. Jangan di musnahin deh. bikin aja sistem dan aturan yang mengikat dan benar dan mau diikuti semua supir angkot dan pengguna jalan. Masalahnya, sebenernya aturan lalu lintas di jalan raya kan sebenernya udah ada, cuma orang-orangnya aja yang susah. Kalo aturan bisa dibeli sama pembagian duit abis ngangkot sama polisi buat apa? polisinya juga sama aja kan?


kegilaan supir angkot ini bikin gw naek darah tiap hari. Ngejalanin mobil seenaknya, serasa lagi balapan di Sepang aja. Nge-rem seenaknya juga, ga liat penumpang nenek2 kakek2 ibu2 yang jantungan. gw juga. sport jantung. Berentiin mobil seenaknya. Mau ditengah jalan kek, mau ditengah pasar kek, kayaknya No Problem aja gt. Selama ga bunuh orang aja kali. udah beberapa kali gw mau tabrakan gara2 angkot yang berenti ngedadak ditengah jalan buat naekin penumpang. Penumpangnya oon juga. masa megat angkot di tengah jalan. maksa banget. ndeso.


Supir angkot marah2 kalau ada yang ngehalangin ato nyusul. Tapi kalau dia yang nyusul Tiis2 aja gitu. penumpang udah 100 aja teteeep aja naekin penumpang. Ongkos kurang marah2. Ongkos lebih diem aja. ngetemnya lebih lama dari nungguin bikin KTP. Trus suka berantem sama tukang supir lain di depan para penumpang, malah supir angkot gw waktu itu pernah turun dulu buat berantem.


Gw suka denger supir angkot yang bilang bahwa kita, para penumpang dan siapapun selain supir angkot, harus mengerti kalau mereka kaya gitu karena ngejar setoran harus bayar ini itu buat keperluan hidupnya. nah kita? dipikir kita ga punya kerjaan? dipikir kita ga di kejar waktu? kalau merasa saling punya kepentingan ya harusnya saling menghargai.


gw udah enek banget sama angkot. gw pengen ilangin aja angkot di indonesia ini. ganti pake bis yang jadwalnya udah diatur kaya di negara2 maju gitu misalkan. pake kereta atau. di negara2 lain juga gaa da angkot bisa2 aja kan? kaya di jepang misalkan. pkonya apapun asal jangan ratusan angkot kaya sekarang ini.


Ato mungkin sistem pengaturannya yang harus diperbaiki. pendidikan dulu gitu itu supir angkotnya. jadi ga bisa sembarangan. bukan preman2. dipilih gitu. pake dana pemerintah.


Dana pemerintah? ga bakal jadi lahan korupsi lagi emang? bakal bener emang?


see? balik lagi ke orang-orangnya. orang-orang Indonesia tuh pinter2. banyak. cuma bego aja. pinter tapi bego? nah, cuma ada di Indonesia...


Gw ga mau cuma ngomong doang, ngritik begini begitu tapi ga kasih solusi. susah emang. susah. gw juga mau ngapain juga susah. Solusi yang gw tawarkan adalah, gw harus nikah sama calon presiden entah periode berapa. Baru mau gw salurin aspirasi gw...






Oke. ini ga mungkin. Apa yang gw harepin diatas sama artinya dengan 'gw ga bisa ngelakuin apa-apa' buat hal2 bginian. gw keburu cape dengan ulah-ulah mereka. but anyway, gw ngungkapin ini setidaknya gw punya harapan buat Indonesia. gw ga mau menutup mata.

Minggu, 01 April 2012

However, I know God has plan for me.

Belakangan ini banyak banget yang ngomongin soal pernikahan. Baik itu temen gw sendiri, guru-guru di tempat gw praktek ngajar, atopun ibu-ibu yang baru aja gw temuin di suatu tempat. Bahasannya ga jauh tentang masa depan seorang wanita, yang kelak menikah dan berkeluarga, membina suatu komitmen yang penuh dengan kejujuran. Well, itu bukan topik utamanya. Kebanyakan, mereka membahas seperti apa kelak laki-laki yang bakal menghidupi. Tepatnya, materi yang mereka punya.

Orang-orang sibuk mencari. Orang-orang sibuk membicarakan tentang bagaimana kita harus mendapatkan orang  yang ‘mapan’ buat ngedampingi kita. Tak usahlah cinta. Hidup tak begitu memerlukan cinta. Cinta bisa apa? Well, orang ini harus masuk mata kuliah Discourse Analysis dan dapet pencerahan dari Mr. Didi soal cinta. But no offense. orang-orang yang mengejar materi di jaman sekrang sangatlah masuk akal.  Melihat banyak orang tak begitu memikirkan kebahagiaan hakiki dalam hidupnya.

Orang tua mana yang ingin menikahkan anaknya dengan laki-laki yang pengangguran, tak punya banyak materi yang bisa diandalkan untuk melangsungkan kehidupan ga hanya buat istrinya, tapi anak sekeluarga, yang segala sesuatunya hanya di dasari dengan cinta, atau mungkin saja kebohongan.

Banyak orang berpikir sama. Ga sedikit temen gw yang ‘mencari’ laki-laki berseragam ‘hijau’, ‘coklat’, ‘putih’, dan berbagai warna lainnya, hanya untuk mendapatkan penghidupan yang layak, buat dirinya sendiri dan anak cucunya. Tak salah. Dan sangat logis.

Yang gw ga habis pikir, issue ini berputar di sekeliling gw belakangan ini. Entah karena mungkin udah masanya gw memikirkan ini, atau karena memang lingkungan gw yang menuntut, atau mungkin karena gw lebih merasa ‘sendiri’ saat ini. Dan gw selalu merespon dengan sok bijak, so ‘cool’. Sebenernya, apa yang gw pikirkan berbeda.

Ga dipungkiri gw juga pengen dapetin lelaki ‘idaman’. Spesifikasinya tentu ga bakal cukup satu halaman kertas A4 yang biasa lu pake ngeprint. Terlalu banyak rentetan tuntutan yang harus dipenuhi sebagai seorang lelaki ‘idaman’. In fact, nobody’s perpfect. Masalahnya, gw masih hidup di dalam dunia gw yang kecil ini. Gw masih mikirin hal-hal kecil yang real yang gw hadepin sekarang. Gw masih mau bergandengan tangan sama temen2 gw. Gw masih suka nongkrongin tempat-tempat rame. Gw masih suka bermain-main dengan hubungan. Sulit rasanya memikirkan ‘serious relationship stuffs’ ,  terutama buat masa depan gw , yang bikin temen-temen gw ngawang-ngawang, yang justru jadi impian semua orang tua terhadap anak ceweknya. Honestly, gw masih menganggap hal-hal seperti itu itu klise. Tetapi sangat logis.

Gw juga punya mimpi. Gw pengen punya kehidupan gw yang layak di masa depan gw nanti. Gw pengen apa yang gw mau, apa yang gw suka, apa yang jadi kewajiban dan hak gw, gw bisa jabanin apa adanya. Tapi, alih-alih berharap dari calon suami kaya yang bisa ngasih kita segalanya, gw berpikir buat ngeraih segalanya sendirian dulu. Oke. Ga gampang. Butuh kerja keras. Tapi gw ga mau bergantung. Rasanya melihat orang-orang membicarakan materi bikin gw mual mau muntah. kenapa gw rasanya itu menjadi suatu tuntutan, standar yang harus di raih setiap orang dalam hidupnya.

Ga salah. Sama sekali ga salah. Tapi Tuhan tidak suka hal-hal yang berlebih-lebihan. berharap terlalu banyak. Tuhan punya rencana, Tuhan sudah menakdirkan kita dengan seseorang, miskin atau kaya, apa dia rajin gosok gigi atau engga, apa bibirnya berwarna hitam karena rokok dan badannya kerempeng, apa dia pernah having seks, apa dia sudah beristri sebelumnya dan punya anak, who knows?  Memulai hidup dari nol memiliki arti kebahagiaan tersendiri nantinya. Apa yang lu raih, apa yang lu dapetin, akan sangat berarti tiap jengkalnya, tiap satu butir beras yang lu makan, tiap tegukan air yang lu minum, tiap sepersekian kecil ukuran apapun di dunia ini. Dan lu bakal bisa ngehargain sekecil apapun yang lu dapetin. Yang harus dipegang benner-bener, diluar semua masalah kepercayaannya terhadap Tuhan, adalah apa dia mau berkerja keras, dan jujur. Kadang apa yang kita ga suka sebelumnya, mau ga mau, suatu hari nanti harus kita terima.

Yang gw takutin Cuma satu. Gw takut pemikiran gw ini, berujung kaya ibu-ibu yang tadi gw ajak ngobrol di museum. Umurnya 50 taun sekian. Belum menikah., setelah gw pikir dia punya anak karena ngomongin betapa kita sebagai wanita harus milih cowo yang bener (baca: kaya). Gw pikir itu nurani seorang ibu buat anak cewenya, tapi sepertinya, ditujukkan buat dirinya sendiri. Beliau sedang menjalin kasih dengan seorang lelaki, yang sudah menikah dan punya anak, dan sudah 8 tahun lamanya. Katanya, cowo itu suka ngehina apaun yang dikerjakan beliau. Tapi beliau bertahan karena, sulit untuk mendapatkan lelaki di usianya sekarang. Yang biking gw heran lagi, beliau dengan santainya ngomongin hal itu sama orang yang baru dikenalnya. Gw ga tau harus bersimpati atau merasa kesal.

See? Gw takut idealisme yang terlalu gw pegang erat itu berujung di suatu titik dimana gw ga bisa milih lagi. Walaupun gw ga terlalu peduli sekarang, gw mulai berpikir gimana caranya buat nerima orang apa adanya. Karena seperti apa yang gw bilang, lelaki ‘idaman’ gw, ga bakal bisa gw tulisin. Apa yang gw omongin ini bukan masalah materi. Asal mau berusaha gw bilang, pasti ada jalan. Tapi masalahnya adalah jalan pikir laki-laki. Hanya satu dari sejuta laki-laki, yang bisa dan mau berpikir tentang apa itu artinya komitmen, atau pernikahan. Kalau seperti ini, gw ngerasa gw ga muda lagi ternyata…

  Gw merasa tergelitik dengan apa yang gw omongin ini. This is not really my stuff. However, I know God has plan for me

Senin, 07 November 2011

Hidup terlalu panjang untuk diambil sejenak kebahagiaanya, dan lau menderita

Well, dimata kuliah Classroom Discourse Analysis memang selalu ada cerita. Selama 2 jam mata kuliah, hanya sekita 5 menit, mungkin kurang, beliau menerangkan tentang materi Discourse. Sebenernya hari ini gw udah persiapan. Gw baca semalaman, taking note (it's not really me actually), prepare my self to present something that I've got from the book. Ternyata saudara-saudara, tak ada satupun orang yang dipanggil untuk menjelaskan apa itu Identifying Teacher-Students Interaction. awalnya gw kecewa, karena gw ngorbanin waktu ngopi gw untuk menulis cepat. Tapi, kekecewaan gw tergantikan dengan, seperti biasa, ceramah yang diberikan oleh Mr. Dumbledore, atau sekarang kita memanggilnya Mr. Onehundredpercent. oke. Kita singkat saja. Mr. 100%.

Apa yang gw dapet di Kelas Discourse ini, amat sangat Klise. Dan gw ga pernah berpikir kalau gw bakal terpesona dengan kata-kata gombal yang beliau tuturkan. Tidak terlihat gombal kalau beliau yang bilang. tapi gw pikir, itu bukan karena Mr. 100% yang bilang, tapi karena perasaan dan hatinya yang tulus yang bikin gw, bukan cuma gw aja, tp semua temen2 sekelas gw, terhanyut.

Berikut ini kata-kata yang gw quote pas beliau ngomong. Kita sebut "Teori CInta Pak Didi". Kalau lo baca ini, plis lu bayangin seorang lelaki jantan yang tulus and mean every words he says. Jangan ngebayangin para gombalers, hidung belang, atau lelaki kebanyakan yang lo temuin dipinggir jalan.

"Jadilah Laki-laki yang jantan"
"Menaklukan perempuan itu mudah. Kehalusan Budi." 
"Jadilah seseorang yang pantas ditaati, yang dapat menaklukan wanita. karena wanita akan yakin pada laki-laki yang tulus dan tanpa pamrih."
"Saya tidak bahagia melihat dunia, jika tidak dengan istri saya"
"saya merasa mampu melakukan apapun, jika ada istri saya"
"Dunia ini limited, saudara-saudara. maka carilah yang pasti-pasti saja. jangan mengawang-ngawang"
"Yang indah itu cinta"
"Cinta sejati itu ada. tapi tidak ada cinta pada peandangan pertama. ada juga cinta pada pandangan ke 123. yang ada juga berahi pada pandangan pertama"
"Di keluarga saya yang berharga itu adalah ilmu pengetahuan, pengalaman, dan cinta. batu giok mahal yang teman2 saya beli, ga ada harganya"
"Allah memberikan kebahagiaan itu 100%. jika kamu berdua, maka akan kebagi 50-50 atau 70-30 atau 40-60. kalau anda punya 10 istri? mungkin anda hanya memiliki kebahagia 0.0006 percent. biasanya terjadi pada orang yang punya pasangan ganteng atau cantik"
"Lelaki dianggap hebat kalau dia sudah membahagiakan pasangannya"
"Orang pacaran itu lagi sedang berdusta."

random memang. dan gw ga bisa nyusun kata-kata beliau jadi cerita yang nyambung, yang sesuai dengan apa yang beliau ceritakan. karna gw bgtu terkesima. itu kata-kata gombal terindah yang pernah gw denger. kata-katanya mungkin sederhana dan biasa. banyak orang yang bilang begitu. tapi kalau lo liat wajah dan ketulusan hatinya, lo bisa nangis. bahkan cowo2 pun merasa tersentuh,

orang-orang hebat memang selalu mempunyai hal yang hebat. hidupya hebat karena mereka memiliki prinsip hidup yang hebat yang mereka jalani. gw merasa, menjadi wanita karir bukan jadi tujuan utama gw lagi. gw ga bisa jelasin alasannya kenapa karena akan terlalu panjang. karena ini pasti, terinspirasi oleh cerita beliau dan istrinya. Dan, trust me, gw nulis dibuku:

"pak, plis muda lagi. saya mau jadi istri bapak" 

gw orang yang keras hati, man. gw ga gampang tersentuh dengan omongan2 yang pecicilan. But if you hear this, you, women and gentlemen, you will fall to the beauty of love, yang selama ini gw anggap klise, atau sesuatu yang ga begitu penting. 

Well, guys, diakhir beliau berkata "Tujuan manusia itu cuma satu. Kebahagiaan." bukan karena hal-hal yang berbau matrealistis atau semacamnya. tapi kebahagiaan yang hakiki. Bukan kebahagiaan seperti seorang artis tenar yang popularitasnya meroket, kaya, having fun, dan akhirnya termakan waktu.

 "Hidup terlalu panjang untuk diambil sejenak kebahagiaanya, dan lau menderita. "

Selasa, 20 September 2011

My own Leraning Journal

inspired by my teacher in English for Young Learners Class when we were asked to write a learning journal after teaching learning activities, I think that it will be interesting if I write my own learning journal. What makes different is my learning journal is not about what I’ve learned in EYL Class, but maybe i’ll write what happen in my whole day.

It’s like today, when we got a big success in Conaplin 4 2011, a seminar held by Balai Bahasa UPI. It’s a quite big seminar actually, since there were so many participants from other islands and countries. 2 days full of tired. Trust me! the food, the snack, and the seminar kit (thank God i got it) that we’ve got were good. But we were really really tired. your feet, your hands, your body, your brain, and all the things sticking to you had been worked well in that moment. However, it was fun working together with all people inside.

Now I’m so happy because tomorrow I’m off to bed. There will no class and I can wake up in the middle of the day.

so many things to say actually. But Guys, I’m really tired and even my hand can’t hold my keyboard well. well then, take rest, everybody. :)