"Maybe it's good if he goes. Sometimes you can spend too long on one-sided love."
Kamis, 07 November 2013
Minggu, 03 November 2013
Stuff being grown up
"Kalau perasaan didebat logika ya ga bakal beres-beres. kalau ga saling ngertiin ya harus ada yang ngalah. that's the sign you wanna to survive, till you can't do anything anymore.
well, stuff being grown up, maybe.
now and then. let anything be."
Jumat, 01 November 2013
PMS selalu bisa menjelaskan semuanya...
Kalau cewe tiba-tiba marah-marah ga karuan, alesan ga jelas,
ngomong ngawur, jawabannya cuma satu, PMS. Gue juga ga tau jelas penjelasan
ilmiahnya. Kalau ga salah sesuatu yang berhubungan estrogen progesterone yang
entah digiminain jadi nebuat cewek emotionally
and physically, crazy.
Oke, gue bukan mau presentasi soal PMS. Pasalnya,
temen-temen gue suka ngerasa kalau cewe-cewe ngejadiin PMS ini tameng buat
marah-marah ga jelas, supaya dia akhir ketika menyesal bisa dimaafkan, because they know it subconsciously happens.
Itu cuma alesan, katanya. Gue rada ga terima dengan statemen itu.
Boys don’t have any
idea. Gue sadarain ga fair kalau kita marah-marah dan ketika ditanya kenapa
kita jawabnya, ‘lagi PMS’. Jawaban yang tidak bertanggung jawab. But hey, try it out and you’ll know it. Ketika
puncak emosi ada di ubun-ubun, dan secara fisik lo nyeri ga ketulungan, dan lo ngucapin satu
kata yang nyentil rasa kekecewaan lo in
any topic exists in the world, there you are.
Selasa, 22 Oktober 2013
Picisan...
Belakangan, gue ngerasa idup gue dipenuhi dengan
ke-melankolis-an. Gue selalu ngerasa kalau hal apapun yang bikin gue sedih atau
gelisah, I can trough that no matter what.
Gue ngerasa udah kebal dan ngerasain yang namanya sakit tingkat dewa, jadi gue
pede aja bisa ngejalanin hal-hal picisan kaya gini.
I was wrong, you know
that. Hal-hal sepele yang nyentil dikit perasaan lo tetep bisa jadi bikin
lo gelisah ga karuan, walopun lo udah pernah jatoh berkali-kali. And honestly, this is the part I hate the
most.
Ketika lo ada dalam puncak kekalutan, jalan lo cuma dua. Lo
maju terus ke dalam kekalutan lo dan jadi pecundang, atau lo muter balik. Lo
tutup rapat-rapat dan cari jalan lain.
Jadi, gue mulai berikrar buat ga wasting my precious times, ever again. Ga tau sih gue beneran bisa
apa engga. Kalau ga dicoba ya ga bakal tau. Gue mulai lagi ngebenahin
mimpi-mimpi gue dulu. Gue mulai tempel lagi gambar-gambarnya, gue mulai banyak
berdoa, dan gue mulai nyari jalan lagi.
Gue mendingan ngeluh terus karena cape kerja daripada ngeluh
karena hal-hal klise, atau hal-hal picisan. Maybe
we need it sometimes, but people have their limit. So this is my limit. I can’t
take further than this.
Jumat, 11 Oktober 2013
Hey, Freedom! (2)
\Gue sedikit tergugah dengan tweets @benhan mengenai UU ITE tentang pencemaran nama baik. Walapupun gue dulu pernah ngepost soal sampai mana kebebasan kita berpendapat, bertindak sebagai masyarakat Negara demokrasi, gue ngerasa untuk yang satu ini kita perlu benar-benar bebas, karena tujuannya baik.
Katanya, di
Amerika, freedom of speech dilindungi konstitusi. Orang-orang ga bisa dituntut apalagi dipenjaran hanya
karena pendapatnya. “Menurut Supreme Court US, freedom of speech akan membuat sebuah
bangsa menjadi lebih besar. Karena kritik akan mengarah pada perbaikan diri.
Kritik, walaupun memuat penghinaan, bagi mereka akan memperbaiki bangsa secara
keseluruhan, dijadikan cambuk untuk terus memperbaiki diri.” (@benhan)
Make sense. Gue setuju-setuju aja
kalau mengarah pada perbaikan diri, mengarah pada tujuan yang baik. Masalah kesinggung
dengan hinaan atau kritikan itu masalah personal. Masalahnya, mungkin, para
pejabat di Negara kita adalah mungkin orang-orang yang sensitif. Udah tau gitu
mereka main internetan, dimana yah, seperti dunia tanpa batas. Gue dulu pernah
denger “kalau ga mau sakit hati, jangan berurusan dengan percintaan” because nothing last forever, because it
wouldn’t last and so on and so on. Mungkin sama halnya dnegan ini. Kalau ga
siap dengan kritikan pedas, hinaan, atau apapun itu mereka sebut, yang jangan
mainan yang beginian. Atau mungkin tepatnya, kalau ga siap dikritik ya jangan
jadi pejabat atau menteri atau perwakilan rakyat apapun, yang notabene pasti bakal
di judge no matter right or wrong they
behave.
Atau, mungkin masalahnya adalah
mungkin bangsa kita ga mau memperbaiki diri. Bangsa yang berteriak-teriak mengenai
Hak asasi, moralitas dan religiusitas, but
act nothing.
Well, memang demokrasi di Negara kita dan di Amerika berbeda.
Tapi untuk tujuan yang baik kenapa engga? Jangan sampai UU ITE ini menjadi
bentuk lain dari pembukaman jaman orde baru. They, the placemen, have more important issues to be solved than
wasting time in court shouting about how broken heart they could be because of
criticism. Sounds like a looser, I think. No, sounds like a sensitive man. Ah ya, this is Indonesia, the place where people are sensitive.
By the way, gue jadi ngeri-ngeri gimana juga sik
ngomongin beginian. Takut-takutnya ada yang ga enak terus gue dijeblosin ke
penjara. Tapi ga apa-apa juga sik. Selagi Harvey Specter sama Mike Ross masih
jadi lawyer. Gue dengan senang hati maju ke Meja hijau.
Well, gue
bukannya mau mengesampingkan perasaan orang yang di kritik. Mau bagaimanapun,
kita, mereka, semua manusia yang punya perasaan. But. Let’s be a better man. Maksud gue, kalau korban perasaan bisa
bikin perubahan untuk orang banyak, which
is a good thing to do, a good deed God will count, kenapa kita harus egois
untuk kebahagiaan individu? Yang kita tau ga ada yang namanya kebahagiaan
Individu. Kebahagiaan 100% bersifat relasional, Ura Karma said.
Kamis, 10 Oktober 2013
I don’t know too. Really. And I’m sorry.
Gue dulu suka berpikir, kalau relationship is about how you give your attention, and how you get the
attention. Well I’m the one who childish. Mungkin karena most of relationship I have is a long
distance one, so it’s really really important for me to know how aware “the
man” of my existence. But maybe time makes me grow up.
Atau, mungkin karena kaum adam begitu memesona ketika
mencoba mendekat dan mendapatkan, until
it get lost because they get bored, or the woman not worth enough to get, not
enough to make them happy. I don’t know.
But I do know when a
man love or don’t to his girl. I think most women can feel it. And sometimes
it’s not okay. Because, if it were me, I have to think harder. Think everything…
I’m pretty sure that
women themselves don’t know what they want. I don’t know too. Really. And I’m
sorry.
Rabu, 02 Oktober 2013
Hey, Freedom!
Jadi saat itu, gue rada stuck
juga pas ditanyain sama si bapak-bapak yang laganya kaya orang ga ngerti
apa-apa. Gue dengan pedenya negejelasin tentang gerakan non-blok, dan bahwa
kita, Negara Indonesia adalah salah satu pencetusnya, ga memihak manapun demi
perdamaian dunia. Pertanyaannya: “Kenapa Indonesia menganut sistem demokrasi, yang
berkaitan erat dengan Amerika, seperti Amerika, kalau Indonesia tidak memihak
satu blok pun? Apakah dengan begitu secara tidak langsung Indonesia mengakui
Amerika lebih baik?”
Masalahnya, pengetahuan politik dan sejarah gue jeblok
banget diluar apa yang gue pelajari di textbook.
Gue diem dulu sebentar dan mikir, and I have
nothing to think. Gue bilang demokrasi yang kita berbeda. And he said, “how?” gue senyum aje. Jawab
muter-muter. Si bapaknya senyum aje juga.
Sebenernya mungkin jawabannya simpel, kalau gue bisa mikir
cepet waktu itu. Dulu gue pikir Demokrasi itu emang Amerika yang bikin dan nerapin
dan meng-influence ke Negara-negara
lain. Gue mikir begitu karena waktu itu yang diulang-ulang adalah Amerika
dengan demokrasi-liberalisnya dan Uni Soviet dengan Komunis-sosialisnya. Selebihnya
pengikut-pengikutnya aja, termasuk Indonesia. Makanya pas si bapaknya nanya, eh
iya juga ya? Kenapa ya? Gue jadi
beneran keliatan bego.
Padahal, gue belajar pas SMP kalo ga salah, apa SD gitu.
Demokrasi itu berasal dari kata Yunani Demos
dan Kratos yang mengindikasikan kalau
demokrasi itu lahir dan berkembang di Yunani, bukan Amerika, jadi Amerika
ngikutin aja. It means that,
Indonesia juga bukan ngikutin Amerika dan nganggep kalau paham Amerika bener
apa engga. Dan walapun kita sama-sama Demokrasi, ada banyak perbedaannya, yang
kalau gue terusin disini bakal jadi pelajaran sejarah nantinya. Ya simpelnya
sih gitu. Mungkin. (untuk lebih jelas silahkan buku sejarah apapun tentang
demokrasi, atau Tanya mbah Gugel)
Dan hari ini gue liat salah satu akun twitter yang gue
follow, yang dimana si pemilik akunnya pergi ke meja hijau karena pencemaran
nama baik, di twitter. Persis sama kasus temen gue juga yang di arak ke
rektorat buat minta maaf karena cicitannya. Anyway,
dalam hal ini gue kayanya netral. Ga ngebenerin,
ga nyalahin juga.
Trus gue baca salah satu twit followersnya:
@yyyy Tepat, itu anti demokrasi & kebebasan RT "@xxxx mengapa pasal pencemaran nama baik UU ITE perlu dicabut:
@yyyy Tepat, itu anti demokrasi & kebebasan RT "@xxxx mengapa pasal pencemaran nama baik UU ITE perlu dicabut:
Yang ada dipikiran gue, demokrasi & kebebasan itu
Amerika banget. Dan hal ini yang bikin gue balik lagi kepertanyaan bapak-bapak
di Museum KAA itu. Apa kita secara ga langsung ngebenerin Amerika dari awal?
Demokrasi liberal? Apa dalam demokrasi pancasila ada liberalisme seperti yang
di maksudkan si @yyyyy ? gue ga tau juga batas kebebasan dari kata “kebebasan”
itu, karena sebebas apapun kalau menyangkut suatu Negara pasti ada rule nya kan? Ah ya, gue mulai ga ngerti
arah pembicaraan gue. Maksudnya, apakah kita sudah menjadi Negara yang bebas? Negara
demokrasi yang bebas? Kaya Amerika?
Orang-orang di Negara kita banyak banget nuntut kebebasan
ini itu. Kok kaya bayang-bayang aja idealisme pancasila kita. Apa udah ganti
gitu ya sekarang? Gue ga tau juga. Yang jelas, gue ngerasa lebih nyaman dengan Indonesia
yang ga sebebas sekarang, dalam hal-hal tertentu.
Dan oh ya, buat kasus pencemaran nama baik di twitter itu, it’s a personal stuff, really. Beresin personally aja lah. Ga usah pundungan
gitu trus bawa pengacara. Cemen.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpeg)
