Senin, 29 Juli 2013

Gue berdoa agar semua orang di Indonesia bahagia dengan ketidaknyamanannya

Gue ga pernah literary ngedoain kedamaian dan kemakmuran Negara gue, Indonesia, dalam sembahyang gue. But I did it last night. Gue miris soalnya. Negara kita adalah Negara kaya yang miskin. Gue ga tau kenapa kontradiksi itu kita punyai. Dan gue ga tau apa kontradiksi ini sama hal nya seperti yang India miliki, dimana padatnya orang dan panasnya cuaca membentuk suatu kenyamanan tertentu dengan ke-religius-annya, sampai banyak orang-orang yang bersedia menanggung semua ketidaknyamanannya demi kenyamanan itu. Gue ga tau, karena gue belum pernah ke india, dan gue ga bakal tau karena gue ga pernah menjadi orang asing di Negara gue sendiri. But I personally think that I’m not comfortable with this contradiction we have. Gue ga tau dimana lagi orang-orang harus mengantri berjam-jam buat dapet air putih dan 2 macam makanan kecil. Gue bahkan liat yang nipu, ngebohong, bawa-bawa anaknya pula, nangis buat dapet air putih dan makanan murah itu. Dari situ gue sadar gue ga kenal sama Negara gue sendiri. Entah karena gue mungkin hidup dalam kehedonisan yang ga gue sadari, atau mungkin gue, yang kata orang-orang, do not care much around. Dan gue kaya dibukakan mata ngeliat ini. Semiskin apa Indonesia sampai ada orang-orang yang harus dorong anak-anaknya, yang harus nipu demi segelas air putih 500an?


Honestly, mungkin gaya hidup gue yang ga bener. Dan seharusnya gue menyadari, tiap gue mau ngeluarin duit untuk hal apapun yang diluar kebutuhan primer gue, kalau diluar sana masih banyak banget yang hidupnya ga kebayang. Masalahnya, kesadaran ini hampir sering gue sadari setiap kali gue ngeliat anak jalanan, pengemis, pemulung, tapi gue ga pernah ngejalanin kesadaran ini. Apa kesadaran membuat kita merasa benar dan masih punya hati? Apa hukumnya jika kita hanya sadar, without doing nothing? Ketika banyak celah dan jalan yang bisa kita ambil buat menjalani kesadaran kita, kita selalu berujung pada keegoisan kita sebagaimana manusia, yang kebutuhan dan keinginannya' tidak terbatas.

Oke, mungkin gue terlalu mengeneralisasi. Harusnya gue pake kata “gue”, bukannya “kita”. Karena mungkin gue aja yang ngerasa kaya gini. Yang ngerasa hanya cukup dengan bersimpati aja. Pas mau ngasih apapun, pertimbangannya jauh kemana-mana sampai hal-hal yang ga penting aja dijadikan landasan untuk dijadikan pertimbangan, which means, ga mau ngasih karena ngerasa suatu saat pasti dibutuhin, nimbun istilahnya. Mungkin gue termasuk orang yang pelit. Bukan tipe orang yang bro-bro an ngasi ke orang, bahkan untuk amal pun gue perlu perhitungan. Beli apapun gue selalu ngitung. Apapun harus diperhitungkan dan dipertimbangkan. Dan perhitungan seperti itu cocok banget sama kaya cara kerja gue yang harus terplanning dan susah banget buat ngejalanin hal berupa “spontanitas”. Kalau gue ga ngitung, gue selalu berpikir bakal berada di my bad end. Dan gue ga mau. Kalau kerja gue ga ter-planning, ya kerja gue acak-acakan. Dan gue ga suka kalau udah saling nyalahin pas ada yang salah, berhubung tidak semua orang yang umurnya 30 tahun keatas dan orang yang banyak pengalaman itu dewasa dan bisa saling ngertiin. Okay, sorry. Topiknya jadi ngawur kemana-mana.

The point is, belakangan selama gue bergiliran sama rekan kerja gue diskusi dan saling ngasih ceramah di kantor, gue dapet banget makna dari sedekah. Sedekah ini yang banyak ngerubah hidup gue. Gue terharu banget pas banyak banget orang yang nyumbang buat acara amal kantor gue, dan bikin gue ngejalanin kesadaran ini. Bikin gue ngeliat, bikin gue memberi, bikin gue belajar ikhlas, menangis terharu melihat senyuman anak yatim pas dapet tas sekolah, bikin gue merasakan kebahagian hakiki. Bukan kebahagiaan ketika lu dapet mobil ato duit 1 miliyar. Gue ga tau sih rasanya dapet 1 miliyar. Tp ga akan se-mencelos ini gue pikir.


Gue belakangan sering berdoa, literary nyebutin Negara gue Indonesia, supaya menjadi Negara yang lebih baik. Dan sangat retoris kalau Allah bertanya, “baik seperti apa?” Gue yakin Yang Maha Kuasa diatas tau seperti apa itu “baik”, bahkan dalam konteks kecil yang ada dipikiran gue mengenai “baik”, gue yakin Ia tau. Gue berdoa agar semua orang di Indonesia bahagia dengan ketidaknyamanannya, diberi jalan untuk menikmati ketidaknyamanannya, diberi banyak perasaan tenang dalam ketidaknyamanannya.

Sabtu, 13 Juli 2013

Zeitgeist


Gue sedikit ngerti perasaan orang-orang yang Atheis, atau agnostic, atau yang menyandarkan semua kehidupannya pada teknologi atau ilmu pengetahuan seperti Scientology atau perkumpulan sekuno Illuminati dan Freemason. Kalau gue percaya dengan kisah Zetgeist ini, gue berpikir Agama adalah benar-benar sebuah Budaya, dan Mitos. Berapakalipun gue berpikir dari jaman gue kuliah mengenai agama, secara logis gue selalu berujung pada pemikiran ini. Budaya. Dan Mitos. Dan setelah gue nonton Dokumenter Zetgeist ini, rasa penasaran gue bertambah. Walopun setelah memahaminya lebihi dalem  ga ngejadiin gue berubah paham. Gue tetep meyakini Islam sebagai agama terbaik.


The thing is, mungkin orang-orang yang tidak memilih beragama berpikir logis sama seperti apa yang gue pikirin sekarang. Kalau gue telen mentah-mentah informasi kaya gini, mungkin gue juga bisa jadi salah satu dari mereka. Tapi yang gue yakini, hal-hal yang bersifat spiritual seperti ini ga bisa dipikirin secara logis. Modal lu cuman satu, percaya. Dengan itu lu bisa yakin dan mengimani.

Begitu banyak tokoh-tokoh peradaban Mesir yang merupakan Budaya tertua di dunia menyerupai Tuhan-tuhan di berbagai agama di dunia. Cerita-cerita mereka, karakteristik mereka, mirip dengan Dewa Matahari zaman Mesir, Horus. Khrisna di India, Attis dan Dionysus di Yunani, Mithra di Persia. Mereka sama-sama dilahirkan dari seorang perawan tanggal 25 Desember, punya 12 pengikut atau murid, mati selama tiga hari dan kemudian bangkit lagi. Beberapa diantara mereka merayakan hari keagungan mereka di akhir minggu. Dan yang mengejutkan gue, Yesus tuhan umat kristiani pun demikian.

Gue bukan offence sama umat kristiani. This is based on video called Zetgeist. You’d better watch it and think. But please don’t believe it. Karena kitapun ga tau siapa yang membangun sejarah Mesir. Walaupun ada yang menyebutnya: “Setanlah yang membuat karakter Yesus sebelum kelahirannya.” Well, who knows.

Yang ada dipikiran gue dari dulu mengenai Kristen, adalah ajaran mereka ga beda jauh dengan kita, Islam, karena mereka berakar dari pendahulu-pendahulu kita yang sama, terutama Nabi Isa. Dan gue pikir pengikut Kristen stuck sampai disitu tanpa menghiraukan bahwa masih ada Nabi terakhir, Muhammad SAW, yang membawa wahyu yang disempurnakan dari kitab-kitab sebelumnya, Al-Quran. Gue ga pernah berpikir kalau Kristen adalah Copy-an budaya Mesir pemuja matahari. Tapi karena gue baca serie-nya Michael Scott, dan beberapa cerita Mesir yang gue tau, segala sesuatunya terasa make senses. Umat Kristen mungkin punya segudang teori buat ngebantah pemikiran gue ini. Tapi ya, seengganya itu yang ada di otak gue yang dangkal ini. Gue juga gam au terlalu tau teorinya. Takut-takut malah gue beralih paham.

Well, Itu yang gue pikirin ampe gue nonton video ke-4. Video ke 5-9 nyeritain tentang tragedy 9/11 yang merupakan konspirasi Amerika sendiri. Video ke 10, nyeritain perang, mata uang, Uni Amerika, Uni Eropa, Uni Asia, dan Uni Africa yang bakal bersatu dan melakukan one world government, dan nanemin microchip di badan kita. Di akhir video entah berapa kali videonya nayangin mata satu berkedip ampe gue pusing karena terlalu sering dan banyak. Pikiran gue balik lagi ke Konspirasi Freemason dan Illuminati and so on and so on tentang cerita One Seeing Eye-nya. Cerita-cerita microchip ini yang bikin gue inget buku yang gue baca mengenai konspirasi Yahudi, Freemason, dan illuminati, diceritain sama orang Indonesia, yang jalan ceritanya ga beda jauh sama video ini. Jadi plotnya seolah-olah ngasih tau kebusukan mereka, kebusukan Amerika dan semua dalang-dalangnya, kebusukan para konspirator-konspirator dunia yang bakal menguasai dunia, but finally in the end they just indoctrinate or force us into something, I don’t know. Something big. Alurnya sama banget dengan artikel-artikel yang gue baca mengenai konspirasi. Enek dah dengan ilusi-ilusi seperti ini,


And yes, thinking of these abstract stuff is a waste of time. Gue dulu Cuma suka aja cerita yang didasarkan pada fakta, ada buktinya, dan logis. Tapi dari mana kita tahu fakta itu benar adanya? Mungkin hanya di buat logis. Bahkan ketika fakta-fakta itu ada di media massa, media cetak, atau media apapun, gue ga bakal terlalu perrcaya. Trust me, media is a scary thing you have to live with.

Kamis, 20 Juni 2013

You are happy. Sometimes you just don’t realize it.


Dulu, gue bisa baca buku yang tebelnya 1200 halaman selama 3 hari kerja (baca: sekolah), which means, ampir tiap detik terlepas dari semua aktivitas regular gue, gue baca buku. Sekarang, as you expected, buat baca 1 buku gue butuh waktu 1 minggu ampe 1 bulan. Well, kerjaan lo yang ga seberapa tetep bikin lo pengennya tiduran, ngelamun, tarik nafas lama pas balik kerja. Untungnya, kebiasaan gue beli buku minimal 1 dalam sebulan ga ilang. Jadi, daripada gue ngerasain kemubaziran karena udah beli buku, ya gue baca. Seengganya gue ga terpenjara dengan rutinitas membosankan gue, dan sedikit melihat keluar sana.

I literary mean it! gue bener-bener ngeliat ke luar sana, ke Negara-negara yang ga pernah gue kunjungi dan ngeliat bagaimana mereka bisa bahagia dan murung. Gue menemukan banyak filosofi dan ajaran budha dan hindu yang bisa gue pake tanpa harus murtad jadi pengikut mereka karena itu hal kecil yang sangat universal yang sering kita lupakan dan tidak dipedulikan. Gue banyak belajar gimana gue menjalani hidup gue saat ini.
The Geography of Bliss. Ditulis Eric Weiner. Di buku inilah gue belajar tentang kebahagiaan. Hal klise, tapi merupakan cita-cita tertinggi dari umat manusia. Weiner mengelilingi banyak Negara buat nyari arti kebahagiaan, seperti apa kebahagiaan itu, mengapa mereka bahagia, apa yang membuat mereka bahagia, and so on and so on. Dan gue nemuin dua Negara yang menarik perhatian gue.

Pertama: Belanda. Negara prostitusi dan ganja ini adalah tempat dimana kebahagiaan dianalisis, diteliti, disimpulkan dan dijadikan teori dalam kode binari. “Kebahagiaan adalah angka,” begitu katanya. Di Belanda ada yang namanya World Database of Happiness (sebut saja WDH) dibuat oleh seorang ilmuwan kebahagiaan bernama Veenhoven, yang entah bahagia atau tidak. WDH ini berisi tentang riset-riset kebahagiaan di berbagai Negara, diurutin dari Negara yang paling bahagia sampai ke Negara yang tidak bahagia. Pertanyaan pertama gue muncul: gimana ngukur kebahagiaan? Kebahagiaan itu sangat subjektif, sulit untuk digeneralisasi. Tapi Weiner bilang, kita harus mengeneralisasi buat ngeliat perbedaannya. Makes sense. But still, kebahagiaan tiap orang beda. Kalau Veenhoven membuat Swiss menjadi urutan pertama Negara paling bahagia karena rakyatnya yang tidak memiliki rasa iri, serius, kaya, menaati peraturan, pemerintahannya yang baik yang mau membayar pasangan yang melahirkan anak dan sekolah, dan juga coklat, mungkin hal-hal seperti ini ga bakal begitu membahagiakannya buat orang-orang di sebagian Negara yang terbiasa menerima hidup apa adanya seperti Thailand.

Kedua: Bhutan, karena memiliki sistem ekonomi yang sangat unik dan sedang ramai diperbincangkan di dunia. Bhutan tidak menghitung Pendapatan National Bruto yang biasa digunakan di kebanyakan Negara-negara seperti Amerika untuk mengukur kesejahteraan rakyatnya. Bhutan menggunakan Kebahagiaan National Bruto, dimana kesejahteraan rakyat diukur dari sebahagia apa rakyatnya. Brilliant, I think. Cuma masalahnya balik lagi keawal, dan masih menjadi cibiran para pakar ekonomi barat, bagaimana kebahagiaan bisa di ukur? Menurut gue pribadi, selagi instrumentnya nya valid dan datanya bisa dipertanggungjawabkan, it could be a real measurement. Toh Weiner membuktikan, walaupun banyak rakyat Bhutan yang miskin, mereka terlihat bahagia. Apakah kebahagiaan berhubungan erat dengan kemiskinan? Apakah bahagia berarti tidak ada penderitaan? Apakah kebahagiaan adalah uang? Bagi seseorang ya, bagi seseorang tidak. Tapi rakyat Bhutan bahagia.

Satu lagi yang menarik dari Bhutan adalah ajaran Budha-nya mengenai kasih sayang. Semenjak baca itu gue ngebiarin semut-semut yang ada di karpet kamar gue kalau mereka ga sengaja menggerayami tubuh gue (okay, it sounds weird), atau ikut makan makanan gue. Biasanya langsung gue semprot pake air raksa biar mereka ga bisa beranak-pinak (yeah, I’m lying). The thing is, Budha mengajarkan kalau seluruh benda di dunia ini hidup dan bernyawa. And we have to respect it. Bukan berarti gue jadi penganut Budha, tapi hal kasih sayang seperti itu sangat universal dan sebenarnya penting. Di Bhutan, semua orang paham itu dan hidup berdampingan. Bahkan dengan pohon, dengan tanah. Mereka menghargai setiap hal yang ada disekitar mereka.

Dari Bhutan pula lah Karma Ura menyatakan “Tidak ada yang namanya kebahagiaan pribadi, kebahagiaan seratus persen bersifat relasional.” He’s totally right. Bukan karena banyaknya penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang berinteraksi dengan orang lain lebih bahagia dibanding orang yang tidak berinteraksi sama sekali, tetapi Karena gue mengalamai apa yang namanya disebut kesepian dan itu terasa tidak membahagiakan. Dan betapa bahagianya gue ketika ketemu dengan sobat-sobat gue dan bisa tertawa lepas. Gue jadi bertanya-tanya seperti apa itu kebahagiaan pribadi. Kebahagiaan seorang hedonis? “Uang hanya bisa membatasi kita, membuat pagar tinggi di sekitar kita, literally and figurally.”

Weiner menceritakan beberapa Negara lainnya dalam hal kebahagiaan seperti Qatar, Negara yang bahagia dimana gedung-gedung tinggi dibangun, pelayanan supermewah dimana-mana, kaya, tetapi tidak mempunyai budaya bahkan sastra sekalipun. Mereka sedang membangun dan membeli budaya dengan uang. Kita doakan saja. Ada islandia dengan dunia es nya. Moldova, yang menjadi salah-satu Negara paling tidak bahagia berdampingan dengan Somalia. Semua orang berwajah muram di Moldova, seolah-olah mereka semua ingin pergi dari tempat itu. Tapi bahkan di Negara paling tidak bahagiapun ada hal yang bisa membuat orang-orangnya bahagia, Buah dan sayurannya yang segar, katanya. Ada Britania Raya yang bahagia dengan individualitas dan menyaci Amerika-nya, India dengan Kontradiksinya, dimana kita bisa merasakan kebahagiaan dan kebenciaan pada saat bersamaan, dimana agama dan hal-hal bersifat spiritual itu adalah bisnis, dan terlalu banyak orang-orang disana. Thailand bahagia karena mereka tipikal orang yang let it flow, dan tidak terlalu suka berpikir. Ketika ada masalah, ya sudah, mau bagaimana. But they are happy apparently

Satu lagi pertnyaan yang ngeganggu gue. How about our beloved country, Indonesia? Kebahagiaan seperti apa yang ada disini? Apakah mayoritas penduduk Indonesia bahagia? Kenapa? Because starbuck’s everywhere?
Weiner menjelaskan sedikit tentang Indonesia. Dia Pernah ke Bali, yang dia pikir keadaanya tidak terlalu jauh dengan negaranya, Amerika, hanya lebih banyak bebatuan dengan ukiran khas Hindu. Dia lebih mendapatkan perjalanannya di Lombok, yang ga dijelasin kenapa. Dari awal gue baca buku ini gue berharap banget ada Indonesia, dan ternyata ada. Di Epilog. Tidak sampai satu paragraph. Mungkin karena it’s not worth enough to write Indonesia in a thousand pages like the others. Kenapa? Apa rakyat Indonesia tidak bahagia? Gue sendiri sebagai rakyat Indonesia bertanya-tanya, what makes Indonesian happy most?
Kalau gue liat fenomena social sih, bagi sebagian besar rakyat, mungkin uang.

Kalau gue ditanya, mungkin gue bakal bilang cuaca, makanan, alamnya (walopun sebagian udah ga banget), and then… gue gak terlalu senang dengan tipikal atau karakter orang Indonesia yang udah mendarah daging di tubuh gue juga. Apa lagi ya?

Gue ga terlalu mikirin juga apa yang ngebuat gue bahagia tinggal di Indonesia, atau apakah gue bahagia? Atau kita orang Indonesia punya ikatan nenek moyang dengan tetangga kita Thailand yang ga mau mikir? Atau mungkin gue aja sik. But anyway, gue pernah merasa bahagia. Bukan karena tinggal di Indonesia dengan kekayaan alamnya, bukan karena letak geografisnya, tapi karena segala sesuatu yang ada di Indonesia memberi kontribusi terhadap apa yang membuat gue bahagia, baik buruknya. Dan Indonesia adalah tempat gue berbahagia. Bahkan terkadang, ketika banyaknya hal buruk yang terjadi, hal itu membuat kita dengan cepat dan sering berbahagia saat kita menemukan hal kecil yang membuat kita bahagia.

Ahh, terlalu banyak mengucapkan kata ‘bahagia’ bikin gue kaya pakar kebahagiaan. Gue masih bingung dengan semua abstract thingy ini. Yang jelas, “Memikirkan kebahagiaan membuatmu tidak bahagia.” Itu yang gue dapet di akhir gue baca buku The Geography of Bliss ini.


So, don’t be so hard on yourself when you think you’re not happy enough. You are happy. Sometimes you just don’t realize it.

Senin, 17 Juni 2013

So make us the asset, not the burden.


Setelah gue ngeluh karena ga punya kerjaan dan berpikir buat nipu orang tua buat S2 buat belajar padahal buat ngegantungin hidup gue lagi ke mereka, akhirnya hari ini gue ngeluh lagi karena dapet kerjaan. But that’s how human works.

Gue selalu ngerasa skripsi-lah yang mendewasakan gue. Setelah banyak-banyak sabar dan mengerahkan seluruh kemampuan demi lulus, sekarang gue ngerti itu ga ada apa-apanya dibanding dengan pertama kali lo masuk kerja. The responsibility is too big in my shoulder. But no matter what, you have to carry it and pay for it.

Dan gue selalu berpikir kesalahan ada pada diri gue. Entah karena mungkin gue murtad dari jalan gue sebagai guru, atau karena gue yang susah belajar hal-hal baru, atau daya adaptasi gue yang lambat, atau mungkin karena gue berada di tempat yang salah, yang juga salah gue. Awal kerja gue ngerasa 100x lebih berat dari pada ospek pramuka gue waktu smp, ketika gue disuruh makan telor kunyahan kakak Pembina gue (yiaks ..)  and as my friend said, dan yang ini yang paling gue rasa berat, “hal yang menyebalkan ketemu orang baru adalah, ketemu orang yang menyebalkan.” Well, true story.

Tapi, ketika lo ada di titik jenuh dan mikirin lagi hidup lo, lo ngerasa bisa ngeliat dengan jelas apa yang kurang dalam idup lo, dan apa yang sebenernya pengen lo lakuin. In my case, ketika gue ngerasa perusahaan yang gue tempati udah mulai ngeliatin ke unfair-an nya ke karyawan, dan atmosphere kerja yang jadi aneh karenanya, gue ngerasa kalau Allah ngasih jalan ke gue buat moving out  dan kembali ke jalan yang benar, which is, jadi guru, might be, might be or at least buat ga disitu lagi. Disisi lain, hikmah yang gue dapet di tempat kerja gue yang sekarang bikin gue pengen kelola perusahaan kecil sendiri. Yang ini impian gue sik. But the point is, gue udah kebayang gimana sebuah perusahaan bisa berjalan dengan baik dari berbagai aspek. And the most important part in company is the employee itself, like me, like us, dude.

Lo punya ide se-oke mukanya Emma Watson atau Emma Stone, atau se-maha dahsyat kharismatiknya eyang Subur ampe punya istri-istri girlbandnya, ide lo cuma ide tanpa employee. You need partner, and we are the partner. So make us the asset, not the burden. Ketika para pengusaha menggantungkan hidupnya pada perusahaan tapi perusahaanya kacrut karena employeenya ga semangat banget gawe dan alhasil ngaruh ke produk dan daya jual yang nurun, ya bye bye. I think they the bosses know this but why?

Gue selalu ngerasa buat ga meduliin sema intrik yang ada dalam perusahaan. Yang penting kerja aja. Ikhlas. Pake kemampuan terbaik lo. But there’s always a reason to stop. Bahkan ketika tempat kerja lo nyaman, bekerja dengan orang-orang yang (sebagian) menyenangkan, yang sebenernya semua hambatan kecil bisa lo taklukan kalau lo mau sabar dikit lagi, atau lo mau pait2an dulu gawe. Tapi ada yang ga salah. Nurani lo bilang bukan tempat lo disitu dan sekalipun dengan semua kenyamanannya elo bertahan, lo tetep ngerasa bersalah.


Dan disini gue mulai galau lagi kaya anak SMA.

Minggu, 19 Mei 2013

Maybe God doesn’t give me driving skill so I couldn’t be blamed for this matter




Well it’s been a long time since I wrote in this blog. Banyak banget hal yang terjadi kemaren sampe-sampe tiap mau nulis pikiran gue terlalu numpuk and I’m so speechless.

Tapi kejadian kemaren banget bikin gue ga bisa kalau ga nulis. That would be my unhappiest moment in my life. Dan semua itu kejadian karena kebodohan gue juga, tapi karna gue ga mau disalahin, gue jadi nyalahin entah pemerintah bagian mana yang ga bisa nyetop jumlah mobil dan motor di tempat gue.

Menurut gue, penggunaan atau kepemilikan mobil bukan harus dikurangi, tapi harus di stop, maybe for a while, di Indonesia. Gue ngomong ngaco sik, tanpa data. Tapi ini yang ada dipikiran gue. Because, seriously, I really saw so many cars and motorbikes everywhere. Kejadian kemarin bikin gue trauma buat naek angkot kemana-mana. Please imagine, gue naek angkot dari jam 5 sore dan baru nyampe jam 2 pagi, itupun setelah gue jalan jauh sekian kilometer dan di jemput pake motor di tempat yang masih padet. Gue bener-bener ga bisa abis pikir. Yang gue liat saat itu beneran lautan motor dan mobil ampe ke trotoar dang a ada jalan sedikitpun buat jalan kaki dan macet dan amarah dan kelaparan. Kenapa kelaparan? Karena lo ampir 9 jam dijalan tanpa makan dan minum apapun, guys?! Then people did have their anger. And for the records, this is the first time in my life seeing so many wheels. Kalau gue ga turun dan jalan kaki, gue ga tau nyampe jam berapa ke rumah. Dan gue ga bisa ngebayangin jam berapa orang-orang yang seangkot sama gue yang ga dijemput nyampe ke rumahnya.


Well, gue ga bakal cerita banyak penderitaan gue saat itu. The point is, terlalu banyak kendaraan di jalan kita ini di Indonesia. Ga sepadan dengan jalan yang kita punya, ga sepadan dengan mekanisme pengaturan jalan, or let’s say, polices capacity to manage traffic. And, ga sepadan juga dengan etika kita berkendaraan. Gue ngebayangin kalo kita ga emosian (this is I believe will never happen) dan saling sikut di jalan kita yang kecil dan padet ini, mungkin berkendaraan ga bakal begitu stress, jalanan ga bakal sebegitu hectic-nya. Kalau kita bisa saling excuse dan saling ngasih jalan mungkin perempatan jalan ga bakal sesemerawut saat itu. Gue ngeliatin orang pada teriak sikut sana sini, ditambah polisi marah-marah, anak-anak pada nangis, berisiknya terompet kemenangan persib, dan… what the hell was this? War? Dada Rosada ngapain aja sik kemarin?

This is not his fault, however. He confessed that transportation is one of problems that he can’t solve. Hal begini bukan buat ditimpahkan ke satu orang, walaupun sebenernya beliau bertanggung jawab, dan sebenernya bisa dikordinasikan. But I believe it’s our duty too as one society to “behave” and to take responsibility of this mess. Kalau laju kendaraan bisa dibatasi like, maybe one family one car, atau mungkin di stop in certain time pemasukan dan pembelian mobil, maybe we can breathe clean air for a while, smile for a while, and decrease our stress for a while. Sekarang satu keluarga berlima dan mereka punya dua mobil masing-masing di kali kan 20 persen kelas menengah keatas rakyat Indonesia, yang mungkin punya mobil,   udah berapa ribu mobil? Di tambah fenomena motor di Indonesia yang katanya efektif dan efisien for middle to low class society, but when it comes to a big number, it’s not effective and efficient at all. Dude, gimana lo bisa tepat waktu ke kantor naek motor kalo jalanan macet sama kalian-kalian juga yang saling serobot?

Mobil tambah banyak, motor segudang, jalanan tetep dan malah makin rusak. Gue ga terlalu ngerti apa yang bikin pemerintah, at least pemerintah setempat, lambat buat take action buat urusan transportasi ini, yang sebenernya udah dari dulu banget ada, disaat banyak solusi ditawarkan dan bisa diambil dari pengkritik-krtitik masalah social kita (kalau ga pengamat ya mahasiswa biasanya ini).

Gue ga bisa nyetir mobil atau pun motor sik (baca: penumpang sejati). Jadi apa yang gue tulis disini murni dari mata penumpang dengan pemikiran seadanya. Well, maybe God doesn’t give me a driving skill so I couldn’t be blame for this matter. 

No, I’m kidding. But seriously. :D



Rabu, 23 Januari 2013

Apa yang ada dalam pikiran mereka ketika orang bilang “kalian tidak bisa mendengar”?

 Belakangan, setelah lulus kuliah, gue banyak banget mikir. Mungkin karena kesibukan gue (yang dimana sebenernya ga ada) yang mengurang, gue jadi punya banyak waktu buat ngelakuin banyak hal, terutama mikir, which is the bad side of me. Masalahnya, kebanyakan mikir bikini idup lo lamban, plin-plan, curigaan,  dan mandeg. Karena kebanyakan mikir gue jadi banyak diem karena pikiran gue penuh dengan apa yang harus gue lakuin duluan, film mana yang harus gue tonton atau buku mana yang harus gue baca duluan, kenapa harus yang ini, kalau begini gimana, kalau begitu gimana, kok kamu kayak gitu?. Alhasil, nothing comes good.

Inilah rentang hidup yang tidak mengenakan. Lulus, belum punya kerjaan tetap, uang masih minta orang tua, temen-temen ngilang, dan sendirian. Gue bolak balik mikir apa gue harus minta kuliah lagi sama ortu biar gue lepas dari tanggung jawab diri gue sendri, biar gue bisa masih ditimang-timang nyokap, biar kerjaan dan tujuan gue jelas, belajar. “Lo gak mau nyenengin ortu dulu, ri?” “Iya gue juga pengen.Tapi gue stuck nih mau ngapain”. Ketika dimana lo ngalamin satu titik jengah dalam hidup lo, dan segala sesuatu yang datang jadi serasa menjengahkan, apapun itu. Bahkan ketika Tuhan sedang ngasih jalan buat lo, dengan seenak udel tutup tu jalan page pager. Life sucks, they said.

This is what I feel over this month. Dan sampai sepuluh detik yang lalu, gue masih ngerasa kalau gue lagi ada di jalan yang salah. “Galau” orang bilang. Tapi gue lebih seneng pake istilah pencarian jati diri. Walaupun istilah ini lebih tepat dipake buat anak SMA yang lagi ababil-ababil nya dan bingung milih antara jadi pelacur atau jadi istri ke-4-nya bapak menteri (this is happening, apparently) . But here I am with my stupidity.

But here’s my point. Kemarin gue dapet kerjaan transkrip video. Dan ternyata video anak tuna rungu kelas 8 yang lagi belajar bahasa inggris. Gue ga bisa berenti mikir. They are so young, beautiful and handsome, and smart. Tapi ketika mereka ngomong dengan terbata-bata, dan ketika mereka merasa bodoh dan tersiksa karna gak tau cara nulis “keranjang” dan dengan susah payah bilang “bear” dan “rabbit”, gue ga bisa lagi caci maki hidup gue.

Life is not perfect. That’s a cliché stuff, I know. But if there are people outside feel that their life is perfect, then they are blind. They don’t see around.

Ketika lo ngerasa hidup lo sempurna dengan semua apa yang lo punya, dengan semua yang lo raih, dan ketika lo nengok kanan atau kiri, there they are. Ketidaksmepurnaan yang membuat kesempurnaan kita tidak ada artinya. Then it’s not perfect at al.  There’s no such thing.

I wonder, Apa yang ada dalam pikiran mereka ketika orang bilang “kalian tidak bisa mendengar”? Hard to say. mikirinya aja bikin gue pengen nangis. gimana kalau gue diposisi mereka? see? the power of kebanyakan mikir. 

They can think and feel everything but they can’t even say it softly. Mereka harus hidup ditengah-tengah orang yang nganggap mereka idiot. Sedangkan gue, gak peduli. Ga ngeliat. Sibuk galau-ing diri sendiri dan caci maki Indonesia, ngebayangin di presidenin Rhoma Irama. Ditengah kerasnya usaha mereka to get a life, I try to throw my life to nothing? Thinking for nothing? Is that how this life works?

Minggu, 18 November 2012

I wonder why there are so many Chinese everywhere...


Oke. Gw ga sabar sebenernya pengen posting tulisan ini malam kemarin sehabis gw balik dariexclusive concert-nya Sungha Jung. Namun apa daya raga ini tak mampu. Walaupun minum kopi biar melek, badan ga mau kompromi. So here it is.

Buat kalian yang ga tau Sungha Jung, dia adalah seorang Solo guitarist fingerstyle 16 tahun dari Korea. Maen gitarnya udah keren banget dari dia umur 7 tahun. Dia itu sejenis anak Prodigy, Gifted. Ada yang pernah nonton August Rush? Nah, dia sering disebut Korean August Rush. Entah bakat dari mana pokonya maen gitarnya ajib banget. Coba cek deh videonya di youtube. You’ll feel the same thing as I do.

Well, yang jadi pikiran gw kemarin malam bukanlah Sungha Jung nya.  He was perfect with all his talent and handsomeness that made all the girls screaming loudly. Tapi, gw lebih concerned ke penonton. Kalau gw persentasikan, sekitar 80% penonton Sungha Jung kemarin malam itu Chinese.

Gw ga bermaksud rasis. Banyaknya chinese yang datang kemarin malam bisa aja karena artisnya datang dari etnis serupa, Korea, you know what I mean, slanting eyes. Atau memang karna sebagian besar Chinese-chinese itu yang cukup gaul buat tau Sungha Jung. Atau mungkin sebagian besar Chinese yang notabene kaya itu yang mampu beli tiket yang lumayan mahal itu. Bisa apa aja. Bisa aja ga ada alasan sama sekali, which means gw-nya aja terlalu overthinking.

But, seriously! Yang gw rasain semalem itu aneh.  Gw ngerasa asing di kota sendiri. Gw ngerasa gw lagi ada di hongkong atau CIna, korea, ato Jepang. Di kelilingi people with slanting eyesNo offenseya. Sama sekali tidak berniat menyinggung. Gw Cuma heran di kota sunda ini, hanya sedikit gw bisa melihat muka-muka ayu asli Indonesia, terutama di kota besar Bandung ini.

Penduduk Cina itu ada dimana-mana di dunia. Bahasanya bahasa kedua di dunia. Salah satu Negara berpengaruh di dunia. Orang-orangnya pekerja keras yang ngejadiin kehidupan mereka lebih layak dan mapan dimanapun mereka tinggal. Itulah yang biking gw ngerasa beda sama mereka. Dan gw rasa mereka pun ngerasa  beda sama penduduk lokal kita. Jarang gw liat chinese jalan sama orang-orang lokal. Mereka selalu nge gang dengan etnik mereka.  Pacaran sama etnik mereka. Bergaul dengan sesama mereka.

Setelah gw baca, sebenernya penduduk cina di Indonesia itu cuma sekitar 4-5% dari jumlah seluruh penduduk Indonesia. Tapi, salah satu daerah yang memiliki etnis China terbanyak ini memang ternya ta di Bandung, di samping Cirebon, Banjarmasin, dan Surabaya. Makes sense.  Gw pikir Jakarta paling banyak. Entah karena kepadatannya dan peluang bisnis yang tinggi di sana. Tapi mungkin, malah mungkin orang Indonesia lokal yang banyak bermukin di Jakarta, mengadu nasib buat sesuap nasi. Nah, orang China yang kaya ini mungkin tinggal nikmati aja Surganya Bandung. tapi tetep aja sih, gw ngerasa merka tuh ada dimana-mana...

Well, entah karena perbedaan budaya atau memang karena kurang memiliki rasa kebersatuan walaupun beda ini, gw masih ngerasa ada jarak dengan mereka. I try to be nice. But I just can’t make it normal somehow

Mungkin gw ga harus overthinking kali ya… people have a right to live anywhere, to make friends with anyone, by their own